Setelah lama meninggalkan paket BROOM Unlimited (dulu masih harga 100rb per-bulan) dan kecewa dengan kualitas koneksinya, hingga akhirnya kartu SIM-nya hilang bersamaan dengan ponsel LG KU250 yang dijadikan modem (digondol maling :p) kini saya mencoba kualitas koneksi BROOM Classic.

Menurut promosinya BROOM Classic memiliki kecepatan penuh (tidak seperti paket unlimited yang kecepatannya menurun setelah mencapai kuota tertentu), dan hasil ujicoba di Samarinda hasilnya sebagai berikut:


Dengan Speed Test IM2 dapat dilihat bahwa kecepatan downloadnya menyentuh 437 kbps (3G/UMTS) dan kecepatan uploadnya di 53 kbps.


Sedangkan hasil download speed dalam proses update yum repository pada gambar diatas menyentuh kecepatan 28 KB/s.

Kualitas yang diperoleh menurut saya cukup lumayan dan sebanding dengan harganya. Untuk saya pribadi saya lebih membutuhkan koneksi yang handal untuk mendukung keperluan koneksi internet saya ketika sedang tidak berada di kantor.

Untuk modem saya menggunakan Huawei E160 dan sudah dapat dikenali dengan baik di Linux. Hanya tinggal menginstall tool usb_modeswitch untuk memilih mode USB pada Huawei E160.
Read More: BROOM Classic + Huawei E160 = Lumayan

Sebelum saya membahas judul diatas, saya ingin memberi pengarahan kepada anda yang berencana kuliah ke jurusan Teknik Komputer atau Teknik Informatika atau Sistem Informasi, harap perhatikan ini.

Jika anda berencana kuliah ke jurusan tersebut hanya untuk bisa memperbaiki komputer, buka toko komputer atau buka warnet, maka saya katakan anda berlebihan karena sebenarnya hal tersebut bisa anda dapatkan dari kursus atau pengalaman diluar kuliah. (bahkan rekan saya yang kuliah keperawatan malah sekarang bekerja sebagai maintainer router dan hotspot area) :p

Terkadang persepsi ini yang masih menyebar dimasyarakat, rata-rata jika orang-orang tahu kalo kita adalah pekerja IT, maka kita sudah diberi label di kepala kita bahwa kita ini jago memperbaiki komputer padahal belum tentu atau bahkan bukan hanya itu kemampuan kita.

Ketika saya pertama bekerja di perusahaan tempat kerja saya sekarang ini, dalam waktu tiga bulan saya langsung diberi kenaikan gaji 50% dari gaji saya sebelumnya. Bukannya menerima, saya langsung menghadap direktur keuangan dan saya complain (walaupun gajinya tetap diterima :D) kenapa saya dibayar lebih padahal belum seluruh kemampuan saya digunakan. Pada saat itu beliau hanya mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan atas penilaian kepada saya secara subjektif.

Pertimbangan saya, ditiga bulan pertama, pekerjaan saya hanya memperbaiki komputer yang bermasalah dan mengatur ulang konfigurasi jaringan dikantor saja, saya rasa pekerjaan tersebut belum mengerahkan seluruh kemampuan saya dibidang IT. Hanya kemampuan yang saya miliki dari SMP yang terpakai untuk menangani masalah tersebut.

Terkadang praktisnya karyawan yang lain juga menganggap bahwa memiliki IT di kantor, artinya jadi ada tempat service komputer gratis baik untuk asset perusahaan, bahkan lebih parah, asset milik pribadinya. Terbukti pernah ada beberapa karyawan yang membawa notebook pribadinya untuk dimaintain oleh IT kantor.

Jika dijabarkan, banyak sekali tugas untuk personil IT di kantor. Dalam skema yang saya buat, untuk perusahaan yang sedang saya tangani saat ini, saya mengkategorikan kebutuhan IT perusahaan kedalam 6 kategori: Help Desk, Purchasing, EDP, Inventory, R&D dan Administrator.

Untuk penanganan permasalahan seperti contohnya memperbaiki komputer atau permasalahan peripheral dan jaringan, masuk kedalam fungsi Help Desk IT. Maka dari itu sebelumnya saya singgung bahwa pekerjaan maintenance tersebut hanya bagian kecil dari fungsi IT keseluruhan.
Read More: Orang IT Bukan Tukang Service Komputer

Perbandingan Format Kompresi

Posted by feedsbrain | 12:01 PM | , | 0 comments »

Bulan ini saya disibukkan dengan penyusunan aplikasi SIMPATISAN: "Sistem Informasi Pengelola Agen TPS dan Simpatisan". Sistem ini merupakan alat bantu statistik untuk mengetahui peta dukungan para calon pemimpin (kepala daerah) di suatu daerah pemilihan.

Ketika mengambil data awal untuk proses pembuatan aplikasi ini, saya mendapati data yang hanya berupa file spreadsheet saja untuk aplikasi tersebut ternyata bisa berukuran lebih dari 800 MB. Melihat ukuran tersebut saya akhirnya tertarik untuk menguji beberapa format kompresi baru yang ditawarkan oleh aplikasi Archieve Manager di Linux untuk "membungkus" data tersebut.

Total ukuran asli dokumen seperti pada gambar diatas adalah 846.2 MB yang seluruhnya terdiri dari file spreadsheet. Sedangkan hasil kompresinya, dapat dilihat pada gambar berikut:

Urutan hasil kompresi pada gambar diatas diurutkan dari yang hasilnya paling kecil yang artinya kompresi paling baik. Dan ternyata untuk mengkompresi file spreadsheet dengan total ukuran 846.2 MB lebih efektif menggunakan kompresi 7z. Sedangkan kompresi LZMA menduduki urutan kedua dalam uji coba ini.
Read More: Perbandingan Format Kompresi

Dalam kondisi tertentu, kombinasi Compiz, Cairo Dock dan VirtualBox menyebabkan jendela VirtualBox menjadi transparan. Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan mengaktifkan environment variable XLIB_SKIP_ARGB_VISUALS dengan mengisinya dengan nilai 1 (true).

Untuk cara yang lebih mudah dan yang saya rekomendasikan, lakukan konfigurasi melalui CompizConfig Settings Manager (CCSM), kemudian aktifkan plugin "Windows Rules" kemudian isi opsi "No ARGB visuals" dengan nilai "class=VirtualBox" (tanpa tanda kutip).

Dengan cara terakhir efek dari konfigurasi tersebut hanya berpengaruh pada jendela VirtualBox saja.
Read More: Jendela VirtualBox Tidak Transparan

Dalam suatu diskusi komentar di salah satu situs jejaring sosial, saya pernah mengungkapkan bahwa sangat disayangkan sekali jika setelah perjuangan kita yang berat :p berpindah ke Linux dan kemudian berpikir untuk membangun aplikasi menggunakan Linux tapi ternyata pilihannya jatuh ke bahasa Basic (yang dipopulerkan Microsoft). Apalagi jika tujuannya hanya membuat aplikasi kecil untuk membantu kita melakukan pekerjaan tertentu.

Saya merekomendasikan kepada pembuat thread agar mempelajari bahasa Python bersama dengan library PyGTK. Padahal pada saat itu saya sendiri belum pernah menggunakan, terlebih lagi membuat aplikasi dengan Python.

Dari diskusi tersebut pada akhirnya saya sendiri termotivasi untuk mencoba membuat suatu aplikasi sederhana dengan maksud untuk mendemonstrasikan kemudahan bahasa Python untuk Rapid Application Development di Linux.

PyMMC 0.1

Pembuatan aplikasi ini terinspirasi dari aplikasi Mobile Media Converter buatan MIKSOFT. Sepengetahuan saya aplikasi tersebut dibuat dengan menggunakan RealBASIC.

Aplikasi ini berfungsi sebagai GUI (Frontend) dari FFmpeg. Logikanya sederhana saja, yaitu melakukan konversi dari berbagai macam format video ke format 3gp. Sialnya, ternyata FFmpeg sudah tidak menyertakan dukungan library libfaac secara default karena masalah lisensi. Padahal libfaac ini digunakan sebagai encoder audio untuk format 3gp.

Setelah membaca kebijakan dari penyedia repository ffmpeg yang saya gunakan, sebenarnya mereka tidak menghilangkan total dukungan tersebut, tetapi dibuat opsional, sehingga direkomendasikan agar ffmpeg dibuild ulang dengan menggunakan tag "--with faac".

Anda dapat melakukan kustomisasi format video yang anda inginkan dengan mengedit source PyMMC.py pada bagian berikut:
class PyMMC(object):

__ffmpeg__ = "/usr/bin/ffmpeg"

__parameter__ = " -s qcif -acodec libfaac -vcodec h263 -ac 1 -ar 8000 -r 25 -ab 32 -y "

__src_format__ = ['*.avi', '*.mpg', '*.flv', '*.mov', '*.mp4']
__dst_format__ = ['*.3gp']

ubah variable __src_format__ dan __dst_format__ sesuai dengan yang anda inginkan. Jangan lupa sesuaikan __parameter__ yang dibutuhkan (baca manual FFmpeg untuk informasi ini).

Untuk membangun aplikasi ini saya menggunakan PyDev extension yang dapat berjalan di IDE Eclipse atau Aptana. Untuk membuat interface, saya menggunakan aplikasi Glade 3.

Intinya menurut saya saat ini Python sudah sangat user friendly terlebih lagi dengan adanya library PyGTK untuk kemudahan membuat interface. Saya sendiri hanya perlu waktu dua hari untuk mempelajari Python dari awal hingga membuat aplikasi ini (minimal sampe jalan :p). Artinya jika anda sudah memiliki dasar pemrograman, penyesuaian ke bahasa Python tidak akan sulit.

Saya pribadi sangat takjub dengan kemudahan dan kecepatan pembuatan aplikasi dengan Python. Bahkan kita diberi opsi apakah kita akan membiarkan source code terbuka ataupun dicompile menjadi bytecode. Karena Python sudah menjadi bagian sistem operasi Linux, maka saya lebih suka cara yang pertama untuk pertimbangan kompatibilitas.

Untuk link download dan source code silahkan mampir ke alamat ini: http://pymmc.googlecode.com.

Hati-hati ada bug :D karena proses thread untuk memindahkan output ke widget TextView belum berjalan sempurna. Ada yang bisa memperbaikinya?
Read More: PyMMC: Amazingly Python Example

Jika anda mencari aplikasi serupa 3D Studio Max dan tidak serumit Blender, mungkin anda wajib mencoba Art of Illusion.

Aplikasi ini merupakan aplikasi multiplatform (mendukung berbagai sistem operasi) yang berjalan diatas Java Virtual Machine. Yang paling menarik dari semua hal tersebut adalah aplikasi ini termasuk kedalam kategori Free & Open Source Software.

Untuk menjalankan aplikasi ini, yang anda butuhkan hanyalah Java Runtime Environment (JRE). Namun dalam proses installasi, anda juga direkomendasikan untuk menginstall Java Media Framework (JMF).

Saya sendiri mencoba tutorial "Hour Glass" yang disertakan dalam menu Help aplikasi ini dan merasakan bahwa penggunaan aplikasi ini sangat mudah. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk membuat object 3D seperti pada gambar berikut:

Aplikasi ini mendukung fasilitas export ke format Povray v3.5 (.pov), VRML dan Wavefront (.obj). Format gambar hasil render bisa disimpan ke berbagai format umum seperti JPG, TIFF, BMP dan PNG. Sedangkan untuk export movies hanya didukung untuk format QuickTime dan itupun jika anda menginstall requirement JMF pada saat installasi.

Menurut saya aplikasi ini sangat cocok digunakan untuk pemula seperti saya dalam kebutuhan untuk membuat object 3D. Sedangkan dibawah ini adalah salah satu contoh hasil karya yang sudah mahir :p

Untuk contoh hasil karya lainnya yang tidak kalah spektakuler yang dibuat dengan aplikasi ini, silahkan mampir ke Art Gallery.
Read More: Art of Illusion (Blender Alternative)

Masih ingat dengan NetCut dari arcai.com? Seringkali tools ini menjadi problem bagi admin terlebih lagi admin jaringan wireless.

Sebagai pengguna, kita juga terkadang dirugikan oleh orang lain yang menggunakan tools ini. Misalnya kita pergi ke sebuah area hotspot, kemudian ada user lain yang menggunakan aplikasi tersebut untuk melakukan block terhadap koneksi kita.

Cara sederhana untuk melindungi anda dari tools ini adalah dengan mematikan (disable) ARP Client pada Linux box anda selama melakukan koneksi. Caranya adalah dengan mengetikan perintah dibawah ini pada terminal:

$ sudo ifconfig <eth_device> -arp

contoh:

$ sudo ifconfig wlan0 -arp

Tapi perlu diingat, lakukan hal tersebut setelah anda terhubung ke gateway. Karena jika tidak, malahan anda dengan sendirinya tidak akan terhubung karena sistem anda tidak dapat membaca ARP Table tersebut.

Untuk kembali mengaktifkan (enable) ARP Client anda, ketikan perintah:

$ sudo ifconfig <eth_device> arp

contoh:

$ sudo ifconfig wlan0 arp

anda hanya perlu hilangkan tanda minus ("-") pada parameter arp untuk kembali mengaktifkan ARP Client pada Linux box anda.

Cara lebih mudah adalah dengan menggunakan aplikasi serupa NetCut untuk Linux, yaitu TuxCut.

Dengan cara kerja yang sama seperti NetCut, tools ini sebenarnya seperti halnya pisau bermata dua. Tergantung siapa yang menggunakannya :D

Untuk melakukan proteksi ARP pada Linux box anda, yang perlu anda lakukan hanyalah mengaktifkan centang "Protect Me" pada TuxCut.

Menurut saya aplikasi TuxCut lebih "fair" karena jika kita ingin melakukan block pada client yang lain, maka anda berada dalam state tidak terproteksi. Dan jika anda mengaktifkan proteksi, maka anda juga tidak dapat melakukan block terhadap client lain.
Read More: Cara Sederhana Proteksi Dari NetCut

Setelah sekian lama saya tidak mencoba Cairo Dock akhirnya saya kembali mencoba dock yang paling mirip dengan dock-nya MacOS ini di Fedora 11. Dan ternyata sudah banyak perubahan yang signifikan di Cairo Dock versi terakhir, termasuk applet untuk mengganti GNOME Menu, System Tray dan adanya opsi mode OpenGL (GLX-Dock) agar tidak membebani kinerja CPU.

Eksperimen kali ini saya lakukan dengan merombak desktop GNOME yang saya gunakan karena saya merasa sedikit bosan dengan tampilan standard (mungkin nanti balik lagi kalo bosannya sudah hilang :p).

Saya menginstall Cairo Dock dari repository dan melakukan konfigurasi seperlunya. Cairo Dock dijalankan dengan mode OpenGL (GLX-Dock) atau dengan menggunakan perintah "cairo-dock -o" pada startup parameter.

Untuk memperoleh tampilan seperti pada gambar, saya menambahkan applet Clock dan mengeluarkannya dari dock sehingga bisa dipasang seperti desktop applet. Sedangkan untuk menghilangkan GNOME Panel, kosongkan nilai panel di /desktop/gnome/session/required_components menggunakan gconf-editor.

Saya menggunakan Theme Nimbus untuk GTK Engine dan Icon Set. Sehingga Modifikasi ini merupakan gabungan dari 3 sistem operasi:
  1. Fedora 11 Linux
  2. Nimbus Engine dari Solaris OS
  3. Cairo Dock yang mirip MacOS
Keuntungan perombakan ini adalah resolusi screen notebook bisa digunakan secara maksimal (fullscreen) karena dock bisa disimpan di belakang jendela yang lain dan tidak adanya GNOME Panel. BTW, sistem operasi mana yang gak dicomot dalam perombakan ini? :D
Read More: Eksperimen Desktop Hybrid Theme

Iseng Banget Sih!

Posted by feedsbrain | 9:09 AM | , , , | 1 comments »

Beberapa waktu lalu report log server di kantor saya atur supaya dikirim rutin via email. Dan ternyata setelah saya perhatikan, dalam satu hari seringkali muncul informasi seperti ini:
 --------------------- pam_unix Begin ------------------------

sshd:
Authentication Failures:
root (112.216.83.178): 69 Time(s)
root (93.89.80.3): 44 Time(s)
unknown (112.216.83.178): 8 Time(s)
root (220.181.83.140): 3 Time(s)
Invalid Users:
Unknown Account: 8 Time(s)


---------------------- pam_unix End -------------------------
Berdasarkan informasi ini saya menyimpulkan bahwa ternyata memang banyak sekali usaha dari individu/program jahat yang setiap saat mencoba masuk ke sistem kita (melalui SSH). Padahal IP address kantor tidak pernah saya publish keluar.

Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena perilaku user yang sembarangan mengakses ke situs-situs berbahaya. Sehingga IP address kantor tercatat dalam log kunjungan ke situs tersebut dan pada akhirnya diserang balik dari situs tersebut.

Salah satu upaya mengurangi resiko seperti ini adalah dengan membatasi SSHD hanya menerima koneksi dari IP tertentu dan tidak mengijinkan login SSH dengan akun root.
Read More: Iseng Banget Sih!