Upgrade Ke Fedora 11

Posted by feedsbrain | 12:30 AM | , , | 4 comments »

Beberapa waktu ini kesibukan saya di kantor meningkat, bahkan hampir tidak sempat 'menjenguk' blog dan layanan social network saya. Padahal banyak sekali hal yang ingin saya tuangkan di blog ini, termasuk pengalaman saya bermigrasi ke Fedora 11.

Seperti kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya, berikut ini saya akan laporkan pengalaman saya melakukan upgrade dari Fedora 10 ke Fedora 11.

Pendahuluan

Jika anda pengguna versi Fedora sebelumnya, anda saya sarankan untuk melakukan clean install daripada melakukan upgrade. Walaupun pada situs resminya disebutkan bahwa proses upgrade dari Fedora 10 ke Fedora 11 bisa dilakukan, namun berdasarkan analisa saya hal ini akan menjadi tidak optimal.

Alasannya, pertama adalah masalah file system. Jika anda melakukan clean install, anda dapat langsung mengaktifkan file system ext4 tanpa harus repot-repot melakukan konversi. Satu hal yang menarik lainnya adalah LVM (Logical Volume Manager) pada Fedora 11 dibuat seperti partisi RAID dengan dmraid. Dan hal ini berbeda dengan Fedora 10.

Kedua, dengan melakukan clean install, anda bisa membuktikan performa terbaik Fedora 11 anda. Saya sendiri ingin sekali membuktikan "20 Second Boot" yang digembar-gemborkan dari awal pengembangan Fedora 11. Dan hal ini tentunya akan sulit dibuktikan jika sistem anda sudah tidak clean lagi oleh banyaknya modifikasi konfigurasi yang anda lakukan sebelumnya.

Catatan Migrasi

Hal pertama yang saya lakukan setelah proses install Fedora 11 dari LiveCD, saya langsung memasang stopwatch untuk menghitung lama proses booting hingga masuk ke layar login. Dan ternyata tim Fedora 11 dapat memenuhi janjinya dengan membuktikan bahwa proses booting ini hanya memakan waktu sekitar 20 detik (30 detik jika anda mengaktifkan service httpd, mysql dan wine pada chkconfig).

Kedua, saya sudah menunggu begitu lama untuk mencicipi DRI2 pada onboard VGA Intel 945 di notebook saya. Dan hasilnya, ternyata tidak mengecewakan walaupun performanya menurun drastis.


Jendela glxgears dapat berputar mengikuti cube (Compiz) di onboard VGA Intel 945. Namun demikian saya tidak terlalu membutuhkan 3D dalam ruang lingkup pekerjaan saya, jadi hal ini tidak terlalu terlalu saya permasalahkan. Saya segera mematikan Compiz setelah melakukan uji coba ini.

Tidak lupa saya segera melakukan konfigurasi yum repositories ke mirror lokal dan mencoba melakukan update system. Ternyata benar, bahwa saat ini repository Fedora 11 sudah secara default menyediakan presto repositories. Tapi jika anda menginstall Fedora 11 dari LiveCD, anda harus menginstall plugin yum-presto terlebih dahulu.

Presto dapat secara signifikan menghemat bandwidth anda ketika mengupdate system karena presto hanya mendownload perbedaan paket lama dengan paket baru yang terpasang pada system anda.

Perubahan lainnya yang cukup signifikan dari Fedora 11 adalah Mixer yang default digunakan kali ini bukan lagi ALSA Mixer, tetapi sudah langsung menggunakan PulseAudio Mixer yang sebenarnya lebih mereporkan. Saya sampai saat ini sering kali mengalami kasus yang aneh karena kadang-kadang volume suara berubah-rubah sendiri.

Dukungan Hardware

Jika anda pengguna wireless adapter Atheros dengan driver MadWifi, anda harus sedikit kecewa karena direlease Fedora 11 ini rpmfusion hingga tulisan ini dibuat belum menyediakan paket kmod-madwifi. Namun demikian sebenarnya kernel module ath5k standard bawaan Fedora 11 sudah dapat menjalankan tugasnya dengan baik, hanya saja masih saya menginginkan driver MadWifi karena lampu indikator WiFi nya bisa diaktifkan :p. Jadi solusinya compile driver sendiri dan blacklist kernel module ath5k.

Webcam microdia di laptop saya berfungsi dengan baik dengan menggunakan driver terbaru dari group microdia. Bahkan resolusi maksimal 1280x1024 (1.3 MP) bisa tercapai dengan menggunakan aplikasi Cheese.


Pengembang kernel module microdia menyertakan script untuk membungkus module ini kedalam akmods. Sehingga anda tidak perlu melakukan compile ulang module secara manual setelah anda mengupgrade kernel anda.

Untuk TV-Tuner Gadmei UTV-330+ yang saya miliki, saya agak kesulitan mencari drivernya. Pengembang drivernya menutup sementara akses ke source driver ini karena sedang dilakukan proses refactoring. Dan karena dia juga ternyata orang sibuk, jadinya kemungkinan ketersediaan driver ini kembali akan cukup lama.

Beruntung saya menemukan driver terakhirnya di komunitas Arch Linux beserta patch yang diperlukan agar driver ini bisa dicompile di kernel 2.6.29.x sampai kernel 2.6.30.x.


Stabilitas Sistem

Jujur, sampe tulisan ini dibuat sistem saya masih belum stabil. Paling parah notebook saya sampai mati sendiri beberapa kali secara tiba-tiba ketika saya sedang bekerja. Setelah dianalisa, ternyata permasalahannya berasal dari suhu processor.

Notebook saya menggunakan processor Intel Celeron dan mainboardnya memiliki mekanisme proteksi jika suhu processor overheat, maka mainboard akan melakukan shutdown paksa. Saya menganalisa hal ini dengan memeriksa suhu fisik processor yang saya rasakan tidak wajar.

Setelah kejadian ini berulang kali, akhirnya saya buka casing penutup processor dan saya biarkan hingga suhunya menurun. Baru setelah itu saya coba nyalakan kembali notebook saya dan ternyata tidak masalah.

Saya mengakali situasi ini dengan mengaktifkan processor frequency scaling untuk processor Intel Celeron yang akhirnya bisa digunakan di Fedora 11 (pada Fedora 10 hal ini tidak dapat dilakukan). Saya sendiri masih mencari penyebab pasti kenapa CPU bisa sampai overheat di Fedora 11. Jika dipantau menggunakan aplikasi powertop, memang kernel Fedora 11 sendiri yang membebani CPU tertinggi.

Kesimpulan Umum

Untuk saya pribadi, saya cukup puas menggunakan Fedora 11. Walaupun ada beberapa kekhawatiran yang saya temukan seperti kasus-kasus diatas. Tapi saya yakin bahwa didunia open source segala bug dan fixes bisa ditemukan dan diperbaiki dengan cepat.
Read More: Upgrade Ke Fedora 11

Setelah muter-muter di internet selama dua hari dan mencoba berbagai cara termasuk bertanya ke milis bagaimana menaklukan aplikasi UltraSurf (maaf saya tidak merekomendasikan linknya), akhirnya ketemu juga solusi yang paling mudah dan simple.

Caranya tinggal gunakan saja OpenDNS (yang ini saya rekomendasikan :D) dan aktifkan konfigurasi (centang) option Proxy/Anonymizer di bagian custom Content Filtering.

Jangan lupa arahkan DNS Router anda ke alamat: 208.67.222.222 dan 208.67.220.220.

Penggunaan OpenDNS sangat direkomendasikan untuk mencegah akses yang tidak diinginkan dari jaringan anda.

Arsip Milis

Update Penting:

Wah, ternyata langkah diatas tidak ampuh. Saya sendiri heran, sewaktu hari pertama mencoba konfigurasi ini berhasil, besoknya lagi dicoba kok masih tembus? Ada beberapa kemungkinan:
  1. Belum seluruh alamat Anonymous Proxy yang digunakan UltraSurf terdaftar di OpenDNS.
  2. OpenDNS bukan solusi tepat untuk tujuan ini karena UltraSurf tidak meresolve hostname dari Anonymous Proxy server yang dituju.
Tapi jangan khawatir, sebenarnya masih banyak langkah "radikal" untuk melakukan blok terhadap aplikasi UltraSurf, berikut diantaranya yang sudah saya coba:

Menggunakan aplikasi Anti-UltraSurf

Kelebihan:
  • Efektif melakukan blok terhadap koneksi UltraSurf. Berfungsi seperti firewall lokal, tetapi hanya untuk memblok satu aplikasi (UltraSurf) saja.
Kekurangan:
  • Harus diinstall di setiap client, artinya akun client juga harus diproteksi tidak boleh uninstall aplikasi tersebut. Beri akses Limited Account untuk seluruh client dan install aplikasi ini melalui account Computer/Domain Admins.
Menggunakan Cara Mas Lutfi

Kelebihan:
  • Cuma perlu IPTables dan Squid yang dikonfigurasi untuk memblok seluruh koneksi HTTPS ke IP Address yang hostnamenya tidak bisa diresolve.
Kekurangan:
  • Tidak dapat diimplementasikan dengan Transparent Proxy, setiap client harus dikonfigurasi untuk menuju Squid.
  • Menurut keterangan Mas Lutfi, Skype juga jadi ikutan ke blok.
Hasil Racikan Sendiri

Aplikasi UltraSuft menggunakan port 443 (HTTPS) untuk tunneling dan kita tidak bisa memblock (secara total) port ini karena banyak sekali layanan di internet yang menggunakan port ini termasuk webmail dan e-banking.

Karena saya ingin tetap menggunakan Transparent Proxy, akhirnya langkah yang saya ambil untuk menangani hal ini adalah:
  • Melakukan konfigurasi seperti pada cara Mas Lutfi, namun tetap membiarkan client menggunakan Transparent Proxy.
  • Melakukan Masquarade port 443 hanya ke situs-situs yang digunakan untuk operasional perusahaan seperti layanan webmail, e-banking, dsb.
  • Sisa port yang lain di IPTables tetap di block.
Untuk langkah pertama, aplikasi UltraSurf tetap bisa terhubung ke servernya, namun jika anda coba mengakses situs apapun, maka usaha tersebut akan gagal.

Dua langkah terakhir menyebabkan UltraSurf tidak dapat menghubungi servernya. Tapi dengan mengambil langkah ini, kita akhirnya menjadi mengambil cara yang repot :D bukan cara sederhana lagi :D

Solusi terbaik? Semua tergantung terhadap kebutuhan di perusahaan anda!
Read More: Cara Blok UltraSurf? Pakai OpenDNS! -> IPTables

I was received an email from my colleagues in England with the subject "Berita Oxford". Those email linked to a post on their blog which tells me their activities after leaving Kupang. Yep, it's six month already since their farewell party.

I never thought there's many things changes within those six month. As I never though that I would landed in Kupang for almost three months on that day.

Let's see what changes in me for all of those time, as far as I can remember:
  • I have a courage to quit my last job as IT Consultant on a Software Company. ;)
  • I take a challenge to build a new (open source based) systems and IT infrastructures, started from scratch at a general contractor company.
  • I Switch from Ubuntu to Fedora GNU/Linux distribution. Well, I really like Ubuntu but I love Fedora more.
  • I Switch from NetBeans IDE to Eclipse IDE (w/ JBoss Tools) as I started to learn JAVA Enterprise (J2EE) software development.
  • Now I have a knowledge to implements Samba PDC with Fedora Directory Server (FDS).
  • Using TweetDeck as replacement for twitux (Twitter Client). But since I'm using ping.fm, now I only need Pidgin for this purpose.
  • Using Thunderbird with Lightning Add On to replace Evolution.
Ok, that was some changes in me and generally, I'm very happy with those changes. How about you? What do you love most with your changes???
Read More: Many Things Changes Within Six Month

Fedora Directory Server

Posted by feedsbrain | 9:15 PM | , , | 0 comments »

Saat ini, Fedora Directory Server (FDS) adalah aplikasi open source yang paling membuat saya takjub. Diantara jajaran aplikasi-aplikasi open source terbaik, menurut saya FDS (beserta OpenLDAP) pantas mendapat predikat tersebut.

Salah satu fitur Windows Server yang paling menarik menurut saya adalah Active Directory, terutama Login Server untuk Single Sign On (SSO). Saya tadinya berpikir bahwa fitur ini adalah fitur bawaan Windows dan hanya dapat digunakan didalam jaringan Windows.

Saya sebelumnya pernah mendengar OpenLDAP, namun tidak begitu memahami fungsinya. Bayangan saya, fungsi LDAP ini mirip dengan fungsi Active Directory di Windows, tetapi khusus untuk variant Unix saja, tidak untuk melayani client Windows.

Rasa penasaran saya timbul setelah saya menemukan buku yang membahas mengenai Fedora Directory Server (FDS) di Gramedia, ternyata FDS merupakan perluasan dari OpenLDAP terutama untuk fungsi replikasi multimaster.

Ya, FDS memang berbasis OpenLDAP, namun fitur yang ditawarkannya cukup berarti karena FDS menyertakan management console berbasis JAVA.

Implementasinya cukup menyulitkan untuk pemula seperti saya, terlebih lagi tutorial yang disertakan dalam buku tersebut sudah tidak up to date karena sebenarnya dengan versi terbaru saat ini, konfigurasi dari FDS tidak sesulit yang tertulis, karena hampir 80% pekerjaan sudah dihandle oleh script yang disertakan dalam paket smbldap-tools.

Agar FDS dapat melayani client Windows, dibutuhkan service Samba yang dikonfigurasi menjadi Primary Domain Controller (PDC). Jika anda pernah menjadi administrator jaringan Windows, istilah ini tentunya sudah tidak asing lagi. Samba di Linux dapat dikonfigurasi sebagai PDC dan BDC (Backup Domain Controller).

Kesulitan terbesar yang dihadapi adalah tahap dimana kita harus mengkonfigurasi lokasi home directory dan roaming profiles untuk setiap user. Terlebih dengan tetap membiarkan SE Linux dan Firewall aktif pada Fedora 10 yang saya gunakan.

Sedangkan rasa takjub saya timbul, ketika saya berhasil melakukan join domain dari client Windows ke FDS yang baru saya buat dan kemudian mencoba melakukan login dengan user-user yang terdaftar pada Directory Server tanpa masalah.
Read More: Fedora Directory Server

Belum lama ini saya menerima sebuah ajakan di salah satu jejaring sosial yang intinya "Say No To [cencored]". Subjek adalah sebuah rumah sakit swasta internasional yang hangat diberitakan di berbagai media akhir-akhir ini.

Fokus saya dalam artikel ini adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau kita kenal dengan UU ITE. Sejak kemunculannya UU ITE memang menuai kontroversi, terutama untuk praktisi IT. Namun jika dilihat kenyataannya pada saat ini, ternyata korban dari UU ITE ini justru bukan praktisi IT, tetapi seorang ibu rumah tangga yang tidak puas terhadap pelayanan rumah sakit tersebut.

Seingat saya, pasal yang mencantumkan tentang pencemaran nama baik, itu berkaitan dengan masalah publikasi secara umum. Dalam arti, jika kita dengan sengaja menyebarkan berita di media umum (misalnya di koran, dsb.) menjelek-jelekan seseorang atau badan usaha, itu bisa kena pasal tersebut.

Apakah yang dilakukan saudara kita ini sengaja menyebarkan informasi ini ke umum? Menurut keterangan, beliau hanya mengirimkan ke sepuluh rekannya saja. Jika rekannya ini yang menyebarkan, lalu siapa yang salah? Apakah teknologi email atau mailing listnya? :D. Ironis memang, justru hukuman terberat yang dijatuhkan kepada saudara kita ini berasal dari pasal pada UU ITE.

Saya memandang hal ini merupakan pembodohan publik. Kita menjadi dibuat takut terhadap pemanfaatan teknologi. Jangan-jangan suatu saat juga kita akan ditangkap gara-gara sebuah pesan di SMS. Ini sangat nonsense!

Untuk rumah sakit yang dimaksud, saya tidak tahu apakah sudah dilakukan langkah secara kekeluargaan sebelumnya, tapi menurut saya. Jika memang tuduhan itu tidak benar, kenapa harus risih?! Anggaplah itu sebagai bentuk suara konsumen yang bisa dijadikan masukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan rumah sakit dikemudian hari.
Read More: Pindah Ke Negara Yang Gak Ada UU ITE Yuk?!

NVRaid -> dmraid = fakeRAID!

Posted by feedsbrain | 12:38 AM | , | 1 comments »

Kronologisnya begini, kantor saya salah beli server untuk project di salah satu gedung pemerintahan di Kaltim. Gak tanggung-tanggung, belinya tiga unit dan pada akhirnya spek yang ditawarkan kantor direject. Kejadiannya sih sebelum saya gabung di kantor ini, jadi saya belum terlibat dalam pemilihan spek ketiga server tersebut.

Server yang dimaksud adalah HP Proliant ML115. Yup, anda dapat menduga kenapa spek server ini direject. Yang pasti spek standardnya memang kurang memenuhi persyaratan untuk penggunaan tingkat menengah keatas (beban tinggi).

Pada akhirnya yang kembali ke kantor ada dua unit server, karena yang satu unit ternyata terjual di lokasi project. Dan kesimpulannya perusahaan menginstruksikan agar kedua server ini bisa digunakan.

Saya berinisiatif untuk menggabungkan RAM dan Harddisk kedua server tersebut ke satu server saja dan satu lagi akan digunakan untuk cadangan (sparepart) saja. Hasilnya, meskipun keduanya sudah digabung, spek server ini hanya menghasilkan sebuah server dengan RAM 1 GB DDR 2 ECC dan Harddisk 160 GB (2x 160GB RAID 1).

Syukurnya Permintaan Barang (PB) untuk mengoptimalkan server ini disetujui. Dan tadi pagi, akhirnya datang juga pesanan 2 unit Harddisk 500 GB dan 2 pcs RAM DDR2 ECC masing-masing 2 GB. Sehingga spek server ini sekarang menggunakan total 5 GB RAM DDR 2 ECC dan 660 GB Harddisk (2 x 160 GB plus 2 x 500 GB yang baru).

Sebelumnya di server ini sudah terpasang sistem operasi Fedora 10 pada harddisk yang dikonfigurasi RAID 1 melalui BIOS. Chipset server ini keluaran nVidia, begitu juga dengan RAID controllernya (NVRaid). Namun dari beberapa referensi yang saya dapat, NVRaid ini ternyata Software RAID atau biasa juga disebut dengan fakeRAID. Jika ini memang RAID Software, maka tidak ada bedanya dengan jika kita menggunakan mdadm.

Untuk sistem RAID semacam ini, baik yang disediakan oleh nVidia maupun yang terdapat pada mainboard Intel, software RAID managementnya bisa menggunakan dmraid. Sudah default terinstall pada sistem operasi Fedora 10.

Saya tidak memiliki masalah untuk melakukan installasi Fedora 10 dengan konfigurasi RAID 1 melalui BIOS untuk array yang pertama (2 x 160 GB). Sistem operasi Fedora dapat mengenali device mapper untuk NVRaid tersebut, melakukan installasi diatasnya dan GRUB pun sukses melakukan booting dari konfigurasi tersebut.

Nah, masalahnya timbul ketika saya memasang harddisk yang baru untuk array kedua (2 x 500 GB). Jika saya menggunakan konfigurasi dari BIOS, saya hanya berhasil melakukan konfigurasi hingga device mapper array kedua dikenali oleh sistem, namun ketika akan saya tambahkan ke LVM, konfigurasi array kedua tidak dikenali.

Dalam beberapa referensi juga disebutkan bahwa dmraid ini masih belum 'nyambung' dengan pvcreate (tools LVM untuk menambah Physical Drive). Dan saya sendiri sudah putus asa karena sulit sekali menemukan referensi di internet yang kondisinya sama dengan apa yang saya hadapi.

Bahkan sampai dengan akhirnya saya putuskan untuk menginstall ulang server ini (karena belum production), saya juga menemukan masalah lainnya. Jika konfigurasi yang sekarang ini (2 array) saya gunakan untuk menjalankan installasi Fedora 10, maka installasi akan berhenti pada bagian pengaturan partisi. Tetapi jika hanya menggunakan 1 array saja, installasi dapat terus lanjut hingga selesai.

Saya belum bisa menyimpulkan dari mana akar permasalahan masalah ini. Yang jelas NVRaid dengan dmraidnya ternyata belum berjalan mulus. Ketika saya pulang ke rumah dan kembali membaca tulisan Kang Onno, saya temukan bahwa pengalaman beliau pun lebih mudah menggunakan Software RAID (dengan mdadm) daripada menggunakan RAID bawaan mainboard.

Jadi rencana saya, hari Senin besok saya akan buat konfigurasi server itu menjadi seperti ini. 1 Array (2 x 160 GB) akan saya konfigurasi melalui BIOS dan hanya digunakan untuk sistem operasi, swap, squid cache plus data-data lain yang tidak crusial. Sedangkan 1 array lainnya (2 x 500 GB) akan saya konfigurasi menggunakan mdadm yang menurut perkiraan saya seharusnya lebih kompatibel dengan LVM.

Pertimbangan ini juga didasari dengan kemudahan dalam hal melakukan manage data yang crusial dan monitoring kondisi harddisk dikemudian hari.
Read More: NVRaid -> dmraid = fakeRAID!

Konversi Ke Ext4 Bikin Mules

Posted by feedsbrain | 12:05 AM | , , | 0 comments »

Mules? Bukan mules sebenarnya, maksudnya seperti mules yang dirasakan dalam kondisi panik :D. Kenapa? Karena saya memang sangat panik! Gara-gara thread ini, saya jadi penasaran untuk langsung nekat mencoba filesystem Ext4 di installasi Fedora 10 saya.

Posting ini juga sekaligus sebagai konfirmasi bahwa Fedora 10 dapat menggunakan filesystem Ext4 dan proses konversi dari filesystem Ext3 juga relatif aman (walaupun ada efek samping "mules" tadi).

Ukuran harddisk saya adalah 80 GB. Dengan menggunakan default installasi Fedora 10, struktur harddisk saya menjadi seperti ini:
  1. /boot sekitar 190 MB dengan filesystem Ext3, sisanya jadi LVM.
  2. Pada LVM, /swap mengambil 3.94 GB dan sisanya / (root).
Nah, proses konversi yang saya lakukan adalah mengubah / (root) dari filesystem Ext3 ke filesystem Ext4. Dengan kondisi, saya tidak memiliki media apapun untuk membackup sekitar 47 GB data di harddisk saya. (Sekarang agak kebayang kan sebab mulesnya :p)

Langkah konversi saya ambil dari sini dan hal yang pertama saya lakukan adalah menjalankan perintah berikut:

# tune2fs -O extents,uninit_bg,dir_index /dev/DEV

Sebagai contoh dalam kasus saya, saya mengetikkan perintah berikut:

# tune2fs -O extents,uninit_bg,dir_index /dev/VolGroup00/LogVol00

Langkah ini sukses saya lalui. Setelah proses ini selesai, instruksi selanjutnya adalah memperbaiki struktur harddisk yang telah diubah dengan perintah:

# e2fsck -fD /dev/DEV

Dalam contoh saya, saya menggunakan perintah:

# e2fsck -fD /dev/VolGroup00/LogVol00

Dalam proses ini di layar saya keluar peringatan (warning) yang intinya jika anda menjalankan perintah ini dalam kondisi harddisk di mount, akan terjadi kerusakan data yang serius.

Dengan polosnya saya restart komputer, dan akhirnya komputer saya tidak bisa booting. (Nah, disini mulesnya kambuh :D)

Singkat cerita, akhirnya setelah seluruh cara recovery dilakukan, saya bisa membuat Fedora 10 saya melakukan booting dari filesystem Ext4.

Saya juga bisa menarik kesimpulan dari kasus diatas sebagai berikut:
  1. Untuk saat ini, biarkan partisi /boot menggunakan filesystem Ext3, karena versi GRUB yang banyak digunakan saat ini belum mendukung filesystem Ext4. Menurut referensi, perkembangan GRUB 2 Beta saat ini sudah mendukung filesystem Ext4.
  2. / (root) aman dikonversi ke Ext4, tetapi harap berhati-hati dalam menjalankan langkah konversinya.
Berdasarkan analisa saya, langkah awal konversi seharusnya adalah mengubah isi /etc/fstab agar melakukan mount filesystem yang akan kita konversi menjadi Ext4. dalam contoh saya, isi file /etc/fstab saya adalah sebagai berikut:

/dev/VolGroup00/LogVol00 / ext4 defaults 1 1
UUID=e1b920dd-a43e-483e-b40d-6e57156913cd /boot ext3 defaults 1 2


Selanjutnya segera generate initrd agar mendukung Ext4 dalam proses booting selanjutnya dengan perintah:

# mv /boot/initrd-`uname -r`.img /boot/initrd-`uname -r`.img.old
# mkinitrd --with=ext4 /boot/initrd-`uname -r`.img `uname -r`

Setelah sukses memperoleh initrd yang sudah mendukung Ext4 dalam langkah diatas, barulah proses konversi pada bagian awal artikel tadi dilakukan.

Namun demikian, saya menyarankan agar proses tersebut dilakukan dari LiveUSB atau Rescue mode agar filesystem yang dikonversi tidak dalam kondisi sedang aktif (di mount).

Jika anda penasaran berapa lama proses yang saya lakukan untuk konversi ini (beserta segala kepanikannya :p), anda dapat mengukur waktu dari saya membalas thread diatas hingga terbitnya posting ini dikurangi perkiraan berapa lama saya menulis artikel ini :D.
Read More: Konversi Ke Ext4 Bikin Mules

Lupa Lupa Ingat

Posted by feedsbrain | 10:19 PM | , | 2 comments »

Salut untuk Kuburan band yang udah membawa tema baru di dunia musik :D. Saya sendiri cuma tau band ini lewat lagu "Lupa Lupa Ingat" saja, tapi menurut saya mereka cukup kreatif dan gokil. Skill bermain musik mereka juga oke, tidak seperti band asal jadi.


Bahkan anak saya yang berumur 20 bulan berkomentar "lutu" (lucu) ketika menyaksikan video clip lagu Lupa Lupa Ingat, Kuburan band. Saking senengnya, dia selalu meminta saya memutar terus-terusan video clip band ini yang saya dapat dari You Tube, tidak peduli apakah saya sedang bekerja atau sedang menonton TV.

Tetapi dari aktifitas ini, saya pada akhirnya menyadari bahwa ternyata sound framework "gstreamer"-nya Linux sudah dapat bekerja dengan baik dalam memproses dua sumber suara dari aplikasi yang berbeda.

Pada screenshot saya mencoba menonton TV dengan aplikasi TV-Time dan memutar video clip dengan Totem. Suara dari kedua aplikasi tersebut keluar tanpa masalah, saya pun tetap membiarkan konfigurasi Pulse Audio secara default.
Read More: Lupa Lupa Ingat

Configure VNC Server on Fedora

Posted by feedsbrain | 8:58 PM | , | 0 comments »

In computing, Virtual Network Computing (VNC) is a graphical desktop sharing system that uses the RFB protocol to remotely control another computer. It transmits the keyboard and mouse events from one computer to another, relaying the graphical screen updates back in the other direction, over a network.

VNC is platform-independent – a VNC viewer on one operating system may connect to a VNC server on the same or any other operating system. There are clients and servers for many GUI-based operating systems and for Java. Multiple clients may connect to a VNC server at the same time. Popular uses for this technology include remote technical support and accessing files on one's work computer from one's home computer, or vice versa.

- From Wikipedia -

Configure VNC Server in Fedora (or maybe in other GNU/Linux systems) is different like we usually done in Windows, it's definitely far from "Click -> Next -> Finish" thing. But don't worry, it's not always that hard in practical.

First Thing First: "Install VNC Server"

$ su -c 'yum install vnc-server vnc'

I will skip the explanation of this part :D

The Second: "Configuration"

On Fedora system, the VNC Server configuration is located at: "/etc/sysconfig/vncservers". Let's edit the configuration file:

$ su -c 'vim /etc/sysconfig/vncservers'

Find this line at the bottom of the file:

VNCSERVERS="2:myusername"
VNCSERVERARGS[2]="-geometry 800x600 -nolisten tcp -nohttpd -localhost"

I recommend you to change it like this:

VNCSERVERS="1:yourdesiredusername"
VNCSERVERARGS[1]="-geometry 1024x768"

yourdesiredusername is the username that you allowed to access VNC. Please note this part, the prefix number on "2:myusername" or "1:yourdesiredusername" is Xorg display that you want to use for VNC.

If you use display number 2, and then VNC Server will use TCP Port 5902 (5900 + 2). So, when you prefer to use port 5901, you have to change display number to 1. And dont forget to change also display number argument on VNCSERVERARGS[display_number].

The Third (Last): "User Password & XStartup"

Login as the user that you've specified on VNC Server configuration and then run:

$ vncpasswd

You will be prompted with password and confirmation dialog. As soon as you finished, edit the xstartup configuration with this command:

$ vim ~/.vnc/xstartup

Change it like this:

#!/bin/sh

vncconfig -iconic &
# Uncomment the following two lines for normal desktop:
unset SESSION_MANAGER
exec /etc/X11/xinit/xinitrc

[ -x /etc/vnc/xstartup ] && exec /etc/vnc/xstartup
[ -r $HOME/.Xresources ] && xrdb $HOME/.Xresources
xsetroot -solid grey
gdm &

This configuration allow VNC to use normal desktop access with GDM (GNOME Display Manager). Default configuration only allow VNC user to use TWM and XTerm (why do we need VNC if we're just want to access the terminal :p).

Ok, now we start the VNC Server service with this command:

$ su -c 'service vncserver start'
Password:

Starting VNC server: 1:yourdesiredusername
New 'your.host.name:1 (yourdesiredusername)' desktop is your.host.name:1

Starting applications specified in /home/yourdesiredusername/.vnc/xstartup
Log file is /home/yourdesiredusername/.vnc/your.host.name:1.log

[ OK ]

If you want to enable this each time computer boot, just run this command:

$ su -c 'chkconfig vncserver on'

Before you try access with VNC Client, remember to open firewall port that you use for VNC Server. In this example, we need to open TCP Port 5901.

Now you can run VNC Client to connect to this VNC Server with this address:

your-vnc-server-host:5901 or your-vnc-server-ip:5901

Happy Remoting!
Read More: Configure VNC Server on Fedora